Hujan!

Aku susuri jalan ku di tengah derai hujan.. karena aku tak ingin engkau melihat.. bahwa saat ini aku menangis

Ketika

Betapa risaunya negeri ini, ketika tentara dan peluru senjata jadi kata-kata yang nyata

Bunga

Kamulah bunga yg mekar di taman hati indah rupawan parasmu menebarkan harum

Bersama

Saat teduh mataku meredup di sandaranmu.. sentuhlah keningku dengan ciuman indahmu

Prev Next

Budaya Tinju Adat Ala Masyarakat Soa

 
(Jakarta) - Perjalanan saya menelusuri Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur masih menyimpan kenangan indah yang tidak lekang dimakan oleh waktu.

Satu hal yang saya rasa unik dan menarik adalah upacara tinju tradisional di masyarakat Soa. Masyarakat Soa menamakan tinju tradisional tersebut dengan sebutan Sagi. masyarakat Boawae menyebutnya dengan nama Etu sedangkan sebagian masyarakat Kecamatan Golewa menamakannya Sudu.

Sagi merupakan salah satu bentuk ungkapan rasa syukur masyarakat dalam kampung atas hasil panen yang diejawantahkan dalam bentuk ritual tinju tradisional (adat) di wilayah Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT.

Layaknya tinju yang diselenggarakan di Las Vegas, acara ini juga menampilkan pertarungan yang sengit antara dua pasangan pemuda yang dipilih dan kadang hingga babak belur serta berdarah.

Peserta tinju adat (sagi) ini biasanya terdiri dari dua kubu yang berlawanan. Petinju dari kedua kubu tersebut biasanya para pemuda yang dipilih secara acak dari kerumunan penonton yang menyaksikan pagelaran tinju adat tersebut.

Para petinju dipilih oleh Mosa (panitia) acara. Peralatan tinju yang dipakai masih sangat tradisional, yaitu berupa tanduk kerbau yang dilapisi dengan ijuk (tai kolo atau Woe). Sedangkan pakaian yang digunakan berupa Lesu (ikat kepala), selendang (untuk penutup dada), dan Ragi (kain tenun penutup tubuh bagian bawah).

Namun pertarungan ini tidak memperebutkan hadiah tetapi hanya sekedar seremonial tahunan untuk menghormati berkat dari para leluhur atas segala berkat selama setahun.

Etu atau sagi adalah tinju tradisional khas Ngada yang biasa dilaksanakan pada musim panas, antara bulan Mei sampai dengan Agustus setiap tahun.

Budaya Etu biasa dilaksanakan oleh masyarakat di Kecamatan Soa dan juga di Kecamatan Golewa yaitu di kampung Ngorabolo Desa Takatunga.

Malam menjelang kegiatan tinju tradisional ini dipentaskan, dilaksanakan upacara penyambutan tamu dan ritual lainnya untuk memohon perlindungan dan dukungan para leluhur agar kegiatan Etu terselenggara secara baik dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti cedera berat maupun kematian.

Jalannya Pertarungan

Secara garis besar, Sagi memiliki dua tahapan yang bisa disaksikan oleh orang luar kampung, yaitu:

KOBE DERO, yaitu tahapan  sebelum tinju adat (sagi) dimulai yang diawali dengan ritual terhadap peralatan tinju yang akan digunakan. Acara ini dihadiri oleh mosalaki (sesepuh adat) yang berwenang menyelenggarakan acara . Acara kemudian dilanjutkan dengan tarian dan nyanyian sambil mengitari api unggun. Biasanya tarian ini diadakan ditengah kampung. Kegiatan menari sambil menyanyi ini dilakukan hingga menjelang matahari terbit.

(Upacara Dero)
SAGI yaitu tahapan inti dan puncak dari semua ritual ucapan syukur. Sagi ini digelar di tengah perkampungan. Tinju adat ini dilakukan sampai puluhan partai. Tiap partai terdiri dari beberapa ronde tergantung dari kesanggupan kedua petinju dari kubu yang berlawanan di tiap partainya.

Kedua petarung dan masing-masing pembantu yang dinamakan sike, maju bertarung secara jantan di tengah arena, diiringi dengan tabuhan gong gendang dan pantun berbalas pantun untuk meningkatkan keberanian kedua petinju yang dilaksanakan oleh pemuka adat dari kedua pihak yang bertarung.

Setiap ronde berlangsung selama 3 sampai 10 menit. Selesai bertarung setelah wasit mengumumkan pemenangnya kedua petarung berangkulan dengan penuh sportifitas sebagai tanda perdamaian. Namun jika keduanya tidak mau bersalaman, maka duel akan dilanjutkan di arena Sagi kampung berikutnya. Acara tinju tradisional ini akan berlangsung sampai matahari terbenam.
(Pertarungan saat Sagi)
Tinju Adat (Sagi) merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang masih melekat pada tata kehidupan masyarakat Ngada umumnya dan Soa Khususnya. Acara Sagi ini bisanya digelar pada bulan Mei sampai dengan bulan Juli.

Jadwal pelaksanaan Etu adalah sebagai berikut :

*Bulan Maret dilaksanakan di: Solo Kecamatan Boawae dan Mengeruda Kecamatan Soa.
*Bulan April dilaksanakan di : Piga Kecamatan Soa.
*Bulan Mei dilaksanakan di : Lade-Tarawaja Kecamatan Soa, Nio-Masumeli Kecamatan Soa, Masu-Masumeli Kecamatan Soa.
*Bulan Juni dilaksanakan di : Boawae - Natanage, Nagerawe, Kecamatan Boawae, Natalea - Raja Kecamatan Boawae, Boamuzi - Masumeli Kecamatan Soa, Loa Kecamatan Soa, Takatunga Kecamatan Golewa, Sarasedu Kecamatan Golewa.

Mungkin anda tak akan bosan ketika menyaksikan hal ini secara langsung. Jika anda ingin menyaksinya datanglah di waktu-waktu itu!
 
 http://www.komhukum.com/komhukum-pariwisata-detail-283-budaya-tinju-adat-ala-masyarakat-soa-.html#.UG4_EyJwkxg
 

One Response so far.

  1. Artikel yang memberikan inspirasi bagi pelestarian budaya lokal masyarakat adat Soa Ngada Nusa Tenggara Timur. Ada satu hal saran dari kami sebagai pembaca yaitu pencantuman sumber (apakah melalui interview at pengamatan terlibat, atau studi literatur) terima kasih.

Leave a Reply